Sejarah Ikbem

By Admin 02 Nov 2019, 07:15:52 WIB

Perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk Indonesia memiliki dampak sosial, lebih-lebih pesatnya perkembangan Era Globalisasi (zaman keterbukaan) dengan ciri khusus pola hidup materialisme, konsumerisme dan pragmatisme dewasa ini, secara langsung dan tak terasa dapat mengancam utuhnya tali persaudaraan serta menggerogoti kokohnya persatuan antar anggota keluarga dan masyarakat. Hal tersebut juga dimungkinkan menimpa keturunan Eyang H. Muryadi. Padahal jalinan kerukunan dan persaudaraan yang telah terbina sejak masa hidupnya Eyang H. Muryadi amat disayangkan jika mengakibatkan kesenjangan komunikasi antar anggota keluarga yang tersebar dan terpencar di seluruh tanah air.

Dalam kondisi seperti ini yang amat disayangkan lagi adalah jika antar sesama anggota keluarga Eyang H. Muryadi tidak mengenal, memahami dan mengetahui hubungan kekeluargaan (pertalian darah) dalam satu keturunan yang sama, terlepas dari perbedaan suku, agama, jabatan dan status sosial masing-masing anggota. Islam sebagai agama langit yang universal memberi tuntunan ajaran tentang pentingnya membina, mempererat dan memelihara hubungan silaturrahmi antar anggota keluarga. Di samping itu penegasan yang amat keras dari Nabi Muhammad SAW ditujukan kepada siapa saja yang memutuskan silaturrahmi dengan ancaman NERAKA.

Bertitik tolak dari pemikiran, gagasan dan harapan itulah Bapak H. Achmad Ilyas bin H. Mad Sangid seusai pertemuan silaturrahmi dan halal bihalal keluarga besar Eyang H. Khasanom Rancabanteng –Wangon – Banyumas – Jawa Tengah bertepatan dengan pra pemberangkatan ibadah haji ke tanah suci Mekkah pada tahun 1996, memberi amanat kepada putranya yang bertempat tinggal Rancabanteng –Wangon – Banyumas – Jawa Tengah, yaitu Achmad Daud, agar merintis berdirinya forum silaturrahmi keluarga yang dapat dijadikan sebagai wahana untuk mempertemukan, mempererat, dan memperkokoh kembali jalinan silaturrahmi antar sesama keturunan Eyang H. Muryadi baik yang berstatus keturunan sebagai : anak, putu, buyut, canggah, wareng, udeg-udeg maupun gantung siwur. (7 turunan ).

Untuk itulah sekelompok anggota keluarga yang masih peduli berupaya membangun paguyuban keluarga Eyang H. Muryadi, dengan diawali sarasehan kecil antar anggota keluarga di Musholla Al Ikhlas RT 04 RW 10 di Grumbul Ranjingan – Klapagading Kulon – Wangon – Banyumas pada tanggal 18 Januari 1997 usai sholat tarawih malam pertama. Dengan melalui berbagai tahapan langkah konsolidasi, konsultasi, dan koordinasi bersama anggota keluarga yang cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran menjelang bulan suci Ramadhan tahun 1997, maka dibentuklah organisasi paguyuban atau ikatan keluarga yang diberi nama : Paguyuban Keluarga Besar Bani Muryadi (PKBBM). Nama tersebut memberi arti bahwa anak, putu, buyut, canggah, wareng, udeg-udeg, gantung siwur (keturunan ke-1 s.d. Ke-7) dari Eyang H. Muryadi merupakan satu kesatuan utuh dari satu keturunan induk, yaitu dari perkawinan Eyang H. Muryadi (Pasir Luhur - Karanglewas) dengan Eyang Satem (Canduk - Lumbir) yang kemudian membesarkan keturunannya di Ranjingan – Klapagading Kulon – Wangon.