Biografi Eyang Muryadi

By Admin 02 Nov 2019, 10:33:46 WIB

Asal usul Eyang H. Muryadi  menurut berbagai sumber dari anggota keluarga yang masih hidup (pada masa penghimpunan data silsilah tahun 1996-1997), khususnya Eyang Slamet San Rosid dan Bapak Kusen bin Martawi,  beliau adalah sosok pria bersahaja berasal dari Kampung Karanggandul/Pasir Luhur Desa Babakan Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas.  Beliau mempersunting gadis Desa Canduk Kecamatan Lumbir Kabupaten Banyumas bernama Satem sekitar tahun 1895. Dari perkawinan di awal abad 19 ini lahirlah 9 orang  anak yang semuanya tumbuh dan dibesarkan di Ranjingan - Wangon.

Dalam perkembangan rumah tangga yang menginjak kemapanan, saat anak terakhir sudah mulai tumbuh remaja beliau berhasrat menunaikan rukun Islam yang ke-5 yaitu ibadah haji. Maka + tahun 1922 berangkatlah beliau ke Mekkah selama berbulan-bulan melalui jalur laut lewat pelabuhan Cilacap bersama rekan se kampung lainnya yaitu H. Dulgani dari Kampung Ciara Desa Randegan Kec. Wangon.  Dalam pelaksanaan ibadah haji di Mekkah beliau meninggal dunia dan dimakamkan di sana. Berita wafatnya Eyang H. Muryadi ditanah suci Mekkah dibawa oleh warga se kampung yang pulang kembali ke tanah air dengan selamat.  Adapun Eyang Satem istri almarhum Eyang H. Muryadi, wafat di Ranjingan – Wangon + tahun 1967 dan dimakamkan di Pemakaman Ranjingan,  setelah membesarkan 9 orang anaknya.  Satu-satunya anak Eyang H. Muryadi yang masih hidup dan merupakan anak terakhir adalah Eyang Slamet San Rosid. Ketika tulisan ini akan di-up load ke internet pada bulan Maret 2012, beliau masih sehat, walaupun fisik beliau sudah udzur untuk sholat berjamaah di masjid serta kegiatan di luar rumah.  Beliau di usia senjanya ditemani putri tercintanya Nartiyah, dengan penuh cinta kasih yang tulus. Keberadaan putra bungsu/bontot dari Eyang H. Muryadi ini menjadi kunci dan saksi sejarah keberadaan paguyuban keluarga yang mulia ini.

Adapun petilasan Eyang H.Muryadi yang masih ada yaitu Musholla Al Ikhlas RT 04 RW 10 di Grumbul Ranjingan Klapagading Kulon – Wangon – Banyumas (Depan pintu gerbang Markas Yonif 405/SK Wangon). Sedangkan rumah tinggal Eyang H. Muryadi adalah di selatan rumah Alm. Yahya Anwar. Di sekitar musholla inilah Eyang Muryadi saat itu membesarkan putra-putrinya di masa  penjajahan Belanda dan Jepang kemudian sang istri meneruskan hingga akhir hayat menutup mata pada masa revolusi berakhirnya peristiwa G 30/S-PKI.

DAFTAR ANAK KANDUNG EYANG MURYADI